Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde pada Rabu memperingatkan bahwa artificial intelligence dapat memicu krisis keuangan berbahaya dan menyerukan tata kelola global yang meniru perjanjian nuklir era Perang Dingin.
Poin Utama:
- Lagarde mengatakan AI dapat memicu krisis keuangan yang lebih merusak daripada gelombang kehilangan pekerjaan akibat teknologi sebelumnya.
- Ia mendesak tata kelola AI di seluruh dunia yang menyerupai perjanjian non-proliferasi nuklir pada masa Perang Dingin.
- ECB melakukan stress test terhadap 109 bank dengan skenario serangan siber bertenaga AI yang sangat berat.
Lagarde Soroti Ancaman AI
Peringatan ini disampaikan dalam sebuah pidato di Venesia, menjadi peringatan paling tegas dari seorang gubernur bank sentral mengenai AI dan stabilitas keuangan. Lagarde menyatakan bahwa bahaya terdalam bukan pada teknologinya sendiri, melainkan gejolak pasar yang dapat dipicu di seluruh perekonomian. Seiring sistem-sistem ini makin kuat, katanya, mereka terus merangsek lebih jauh ke sektor keuangan dan ke kehidupan ekonomi sehari-hari.
Ia menegaskan bahwa krisis, bukan mesin, yang selama ini lebih banyak mengikis pekerjaan dan tabungan dibanding teknologi mana pun sebelumnya. ECB telah menguji 109 bank dalam sebuah skenario serangan siber berat yang digerakkan AI, dan sebagian besar kelemahan yang terungkap kini sudah diatasi, kata bank sentral.
Lagarde mengatakan ia akan menulis surat kepada para CEO bank, mendesak mereka untuk memandang ketahanan sebagai pengeluaran serius, bukan sekadar formalitas. Ia memperingatkan bahwa AI dapat membentuk ulang sektor keuangan dari dalam, menciptakan konsentrasi risiko baru dan celah segar bagi pelaku yang berniat jahat. Bahkan regulasi yang kuat, ia akui, tidak dapat menahan laju teknologi ini.
Juga Baca: Traders Now Give Fable 5 74% Shot At Returning By Mid-July
Mengapa Peringatan Ini Penting
Perbandingan dengan non-proliferasi nuklir jarang disampaikan oleh presiden ECB yang masih menjabat, dipinjam dari perjanjian yang bertahan karena kekuatan-kekuatan saingan menerima batasan bersama. “Kita tidak bisa menghentikan artificial intelligence, bahkan dengan regulasi kita yang kuat,” ujarnya.
Seruan ini menyusul alarm yang lebih tajam dari pimpinan Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva, yang berbicara di Brussel pekan lalu. Ia memperingatkan bahwa model-model canggih seperti Anthropic's Mythos could be turned against the financial system, dan menyebut teknologi itu “baru permulaan”.
Regulator menyoroti bahwa alat semacam ini dapat menemukan dan mengeksploitasi celah di berbagai sistem operasi dan peramban utama, bahkan ketika digunakan oleh non-ahli.
IMF telah menyimpulkan bahwa AI dapat membantu penyerang menembus pertahanan lebih cepat daripada kemampuan bank menambal celah, dan menandai tidak adanya otoritas keamanan siber global yang dapat mengoordinasikan respons. Lagarde mengemukakan argumen paralel, menyerukan pembentukan uni pasar modal Eropa dan pengawasan lebih ketat terhadap teknologi yang menembus batas negara.
Selama berbulan-bulan ECB telah mendorong pemberi pinjaman di zona euro memperkuat pertahanan siber, dengan Dewan Stabilitas Keuangan (Financial Stability Board) yang menganjurkan perlindungan serupa. Pada Mei, IMF memperingatkan bahwa kerugian siber yang ekstrem dapat menekan pendanaan bank, memicu kekhawatiran solvabilitas, dan mengganggu perdagangan di pasar yang lebih luas. Pidato di Venesia itu menandai momen ketika Lagarde mengangkat kekhawatiran tersebut dari meja tim siber ke inti kebijakan moneter.
Baca Berikutnya: SpaceX Hits $2.94T Valuation After Passing Amazon And Microsoft





