Inflasi mungkin tetap tinggi lebih lama dari yang diharapkan pasar karena pergeseran struktural dalam perdagangan, kebijakan fiskal, dan geopolitik menggantikan kekuatan siklus yang dulu memungkinkan bank sentral untuk menstabilkan harga dengan relatif mudah.
Dinamika pasar terbaru menunjukkan tekanan harga tidak lagi terutama terkait dengan kekuatan permintaan, melainkan perubahan yang lebih dalam pada cara ekonomi global diatur.
Rantai pasok sedang dibangun kembali dengan fokus pada keamanan dibandingkan biaya, tarif meningkat ke level yang belum terlihat dalam beberapa dekade, dan defisit fiskal di berbagai ekonomi utama terus melebar.
Pendorong Struktural Menggantikan Siklus Inflasi Tradisional
Transisi ini menyingkap tekanan di balik data ekonomi yang tampak tangguh. Meskipun indikator agregat seperti kekayaan rumah tangga dan belanja masih kuat, kondisi dasar tampak lebih tidak merata.
Berbicara kepada Yellow.com, Daniel Bara, direktur Olympus Association, mengatakan pergeseran ini mencerminkan perubahan fundamental dalam rezim inflasi.
“Tekanan yang mendorong inflasi tidak berasal dari ekonomi yang terlalu panas,” ujarnya, sambil menunjuk pada faktor berbasis kebijakan seperti tarif, restrukturisasi rantai pasok, dan pelebaran defisit.
Ia menambahkan bahwa ekonomi global sedang diberi harga ulang dengan berfokus pada ketahanan alih-alih efisiensi, yang mengisyaratkan tekanan inflasi dapat bertahan sebagai hasil dari perubahan struktural yang disengaja.
Also Read: Billions Vanished In Crypto Fraud Last Year, Here’s What The FBI Found
Pengetatan Kredit Mengungkap Tekanan Ekonomi yang Mendasar
Perbedaan itu juga terlihat di pasar kredit. Kondisi likuiditas yang melimpah selama pandemi kini mengetat, memaksa penyesuaian di seluruh perekonomian.
Jason Rindhal, CEO Nebula DeFi, mengatakan para pembuat kebijakan secara aktif membalikkan stimulus sebelumnya, membuat modal menjadi lebih mahal dan, dalam beberapa kasus, lebih sulit diakses. Bisnis didorong menuju operasi yang lebih ramping, sementara konsumen menghadapi biaya pinjaman yang lebih tinggi untuk hipotek dan kredit.
Di balik data utama yang kuat, beban utang yang meningkat dan akses kredit yang tidak merata menimbulkan tekanan pada segmen ekonomi yang kurang siap menyerap biaya yang lebih tinggi.
Rotasi Modal dan Geopolitik Membentuk Ulang Dinamika Pasar
Ketika tekanan ini meningkat, arus modal global mulai bergeser.
Brian Huang, salah satu pendiri Glider, menunjuk pada meningkatnya tekanan terhadap dolar AS, dan memperingatkan bahwa rotasi modal dapat memperkuat tren inflasi ketika investor beralih ke komoditas dan pasar internasional.
Pada saat yang sama, risiko geopolitik berperan lebih langsung dalam membentuk hasil makro. Gangguan pasokan energi dan pergeseran aliansi dagang memengaruhi ekspektasi inflasi dan prospek pertumbuhan.
Rindhal juga mengatakan kecerdasan buatan dapat semakin membentuk ulang pasar, bertindak bukan hanya sebagai alat produktivitas tetapi juga sebagai peserta yang makin aktif dalam alokasi modal dan aktivitas ekonomi.
Read Next: Main Quantum Risk For Bitcoin Is Consensus, Not Code, Grayscale Warns






