Bitcoin (BTC) telah naik 12% sejak awal konflik Iran sementara saham dan emas turun, dan Chief Investment Officer Bitwise, Matt Hougan, mengatakan reli ini mencerminkan perubahan fundamental dalam cara pasar memandang peran kripto ini dalam keuangan global.
Reli Bitcoin di Masa Perang
Hougan mencatat dalam sebuah unggahan terbaru bahwa sejak serangan udara AS dan Israel dimulai pada 28 Februari, S&P 500 turun 1% dan emas merosot 10%. Bitcoin justru bergerak berlawanan arah.
Reli ini mengejutkan banyak analis yang sebelumnya memperkirakan aksi jual karena penghindaran risiko.
Hougan menolak dua penjelasan populer, bahwa geopolitik tidak relevan bagi Bitcoin atau bahwa perang sekadar memicu pencetakan uang. Ia berargumen bahwa kekuatan Bitcoin bersumber langsung dari konflik itu sendiri.
Membeli Bitcoin, tulis Hougan, ibarat membuat dua taruhan sekaligus. Taruhan pertama adalah pada "emas digital" yang bersaing di pasar penyimpan nilai senilai US$38 triliun. Taruhan kedua, yang ia bandingkan dengan opsi call out-of-the-money, adalah bahwa Bitcoin suatu hari nanti dapat berfungsi sebagai mata uang tradisional.
Taruhan kedua itu mendapat kredibilitas ketika Iran menyatakan kepada Financial Times bahwa negara tersebut akan memungut tol US$1 per barel dalam bentuk Bitcoin dari kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, sekitar US$20 juta per hari. Hougan mengakui langkah ini menimbulkan kekhawatiran soal penghindaran sanksi, tetapi menyebutnya sebagai bukti dari tren yang lebih luas.
Also Read: Polymarket Investigates Startups Accused Of Enabling Insider Copy-Trading
Tesis Mata Uang Versi Hougan
Hougan membingkai potensi Bitcoin melalui teori penetapan harga opsi. Nilai opsi meningkat ketika probabilitas mencapai target harga membaik atau volatilitas pasar yang mendasarinya naik. Krisis Iran menghadirkan keduanya, menurutnya.
Penggunaan Bitcoin dengan cara yang mirip mata uang menjadi lebih masuk akal. Volatilitas tatanan moneter global juga meningkat.
Ini berarti Bitcoin kemungkinan akan reli selama konflik geopolitik di masa depan, khususnya di kawasan yang berada di antara sistem keuangan AS dan Tiongkok, tulis Hougan.
Ia menambahkan bahwa total pasar potensial Bitcoin mungkin jauh melampaui sekadar pasar emas senilai US$38 triliun.
Read Next: Claude Mythos Becomes First AI To Complete Simulated Corporate Network Attack






