Tether mengumumkan kemitraan dengan Bitqik, salah satu dari hanya dua bursa kripto berlisensi di Laos, menargetkan 10.000 orang melalui stablecoin education programs hingga 2026.
Inisiatif ini akan fokus pada mendorong adopsi USDT melalui acara triwulanan di kota‑kota besar termasuk Vientiane, Pakse, Vang Vieng, dan Luang Prabang.
Bitqik akan mengembangkan konten edukasi online dan mengadakan seminar yang membahas investasi Bitcoin dan berbagai use case stablecoin, memosisikan program ini sebagai upaya perluasan literasi keuangan di Laos.
Apa yang Terjadi
Kolaborasi ini bertujuan membangun kesadaran tentang USDT melalui Bitqik Academy, yang akan menyelenggarakan aktivitas edukatif yang menargetkan pelajar, pengusaha, dan komunitas di seluruh Laos.
Bitqik, yang menerima lisensi perdagangannya dari Bank of Laos pada Januari 2022 bersama LDX, beroperasi sebagai salah satu dari dua platform teregulasi yang berwenang menawarkan layanan pialang dan perdagangan aset digital di negara tersebut.
"Kolaborasi ini mencerminkan komitmen kami terhadap edukasi akar rumput dan pemberdayaan komunitas di Laos dengan pengetahuan dan alat untuk berpartisipasi secara bermakna dalam ekonomi digital," ujar Paolo Ardoino, CEO Tether.
Kemitraan ini mengikuti inisiatif edukasi Tether serupa di Thailand dengan Bitkub Exchange dan berbagai program di Afrika, seiring penerbit stablecoin tersebut memperluas kehadirannya di Asia Tenggara.
Baca juga: India's Central Bank Pushes BRICS Digital Currency Link At 2026 Summit Amid Dollar Tensions
Mengapa Ini Penting
Laos menjalankan kerangka regulasi percontohan untuk cryptocurrency yang masih bersifat eksperimental, dengan sejumlah celah signifikan yang diidentifikasi oleh Financial Action Task Force pada 2023.
Negara tersebut mengumumkan rencana untuk mengakhiri operasi penambangan kripto pada kuartal I 2026, mengalihkan pasokan listrik ke pusat data AI, sementara beberapa perusahaan berlisensi menunggak biaya sebesar 20 juta dolar AS.
USDT memiliki kapitalisasi pasar 136 miliar dolar AS sebagai stablecoin terbesar di dunia, dengan Tether memosisikan kemitraan edukasi sebagai cara memperluas akses keuangan digital di pasar negara berkembang.
Inisiatif ini mengikuti program Tether serupa di Thailand dan Afrika, mewakili strategi ekspansi yang lebih luas dari penerbit stablecoin tersebut di Asia Tenggara.
Baca selanjutnya: South Korea Busts $102M Crypto Laundering Ring Disguised As Medical Tourism

